Pengabdian Guru

Posted By admin On Sunday, December 15th, 2013 With 0 Comments

MAKALAH

 

MENJADI GURU ADALAH SEBUAH PENGABDIAN

MENJADI GURU BERPRESTASI ADALAH KEBANGGAAN

Diajukan guna Mengikuti Lomba Guru Berprestasi

Dinas Pendidikan Kabupaten Grobogan

 guru

 

Disusun oleh;

Nama              : ACHMAD ICHSAN NUGROHO, S.Ag.

Unit Kerja      : MTs Al Falah Depok

Alamat            : Desa Depok, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan

 

Dinas Pendidikan Kabupaten Grobogan

20013

———————————————————————————————————————

KATA PENGANTAR

            Tujuan pendidikan nasional adalah “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”, cita-cita ini telah dicanangkan oleh para pendiri bangsa sejak Negara ini berdiri. Berbagai usaha telah dilakukan oleh pemerintah untuk mewujudkannya, salah satunya adalah dengan selalu meningkatkan kemampuan guru sebagai salah satu komponen penting dalam pendidikan bangsa.

Dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen dinyatakan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikananak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Guru memegang peran utama dalam rangka implementasi fungsi dan upaya mencapai tujuan nasional. Untuk melaksanakan tugas utama, guru wajib memiliki kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi professional.

Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan Nasional melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar telah memberikan perhatian yang sungguh-sungguh untuk memberdayakan guru, terutama guru berprestasi. Hal ini sesuai dengan amanat Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Pasal 36 ayat (1) yang menyatakan bahwa ”Guru yang berprestasi, berdedikasi luar biasa, dan/atau bertugas di daerah khusus berhak memperoleh penghargaan. Kemudian berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2008 Pasal 30 ayat (1) ditegaskan bahwa “Guru memiliki hak untuk mendapatkan penghargaan sesuai dengan prestasi kerja, dedikasi luar biasa, dan/atau bertugas di daerah khusus”.

Ibarat sebuah masakan pemerintah telah menyediakan alat dan bahan bagi kita sebagai guru untuk meramu sesuai dengan keinginan dan kemampuan kita. Ramuan inipun akan disesuaikan dengan konsumen sehingga akan tepat seperti yang mereka inginkan.

Bertolak dari keadaan seperti ini penulis berusaha untuk menuangkan ide tentang pengabdian guru dan guru berprestasi. Penulis berusaha mencari benang merah antara  pengabdian dan profesionalisme serta korelasi antara prestasi guru dengan hasil yang didapat baik sebagai pribadi maupun bagi Peserta Didik.

Tulisan ini hanya sedikit dari berbagai macam tulisan sejenis sehingga jauh dari kesempurnaan, maka kritik dan saran sangat diharapkan demi kemajuan penulis.

Grobogan, 3-5-2013

Penulis 

Achmad Ichsan Nugroho, S.Ag.

 

———————————————————————————————————————

MENJADI GURU ADALAH SEBUAH PENGABDIAN

MENJADI GURU BERPRESTASI ADALAH KEBANGGAAN

 

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

“Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” adalah sebuah idiom yang sempat melekat pada profesi seorang guru setidaknya sampai akhir 2006. Sebuah kalimat yang menggambarkan betapa mulia profesi guru hingga kata “Pahlawan” tersemat didadanya, dari kalimat itupun terbersit pengabdian yang luar biasa bagi seorang guru, maka tak mengherankan jika di dalam masyarakat sendiri tanpa sadar telah membuat batasan-batasan tertentu pada guru menjadi pengabdian murni dan mengaburkan sebuah profesi.

Sebuah pengabdian telah menjadi keharusan bagi profesi guru hal ini menjadi kesepakatan tanpa sadar dari masyarakat sehingga ketika terjadi hal-hal diluar batasan akan menimbulkan efek yang sangat besar bahkan akan memunculkan sangsi moral bila terjadi kesalahan. Segala tingkah laku akan menjadi sorotan, setiap pembicaraan menjadi acuan, setiap yang melekat menjadi panutan di dalam masyarakat.

Tuntutan dari masayarakat yang nyaris sempurna ini sebenarnya menjadikan fungsi yang strategis bagi profesi guru, dengan ekspektasi yang tinggi dari masyarakat akan lebih mudah untuk melaksanakan sistem pendidikan yang lebih baik. Mereka menjadi motor penggerak bagi kemajuan bangsa dan negara dengan mencetak tenaga terdidik, trampil, dan berkarakter. Suatu bangsa akan mencapai kemajuan apabila generasi yang mengganti lebih baik dari generasi yang diganti dan ini dapat terlaksana dengan pendidikan.

Dilain fihak besarnya tuntutan masyarakat ini secara tidak langsung telah menempatkan guru dalam sebuah kotak dengan batasan yang ketat sehingga membuat mereka terbebani dan terbatas dalam berkreasi diluar profesi dan kebiasaan masyarakat, misalnya mencari kegiatan lain (penghasilan lain), berkesenian, dan lain sebagainya.

Pada sisi ini terjadi dilema antara pengabdian dan keinginan (hobi), kebiasaan, dan tuntutan hidup seorang guru di dalam masyarakat. Maka akan timbul pertanyaan dibenak kita bagaimana seorang guru sebagai pengabdian di masyarakat disatu pihak dan guru sebagai profesi yang hanya terbatas dalam profesionalisme kerja di pihak lainnya.

Perkembangan jaman telah menuntut manusia untuk mengikuti putaran roda jaman ini sehingga hal-hal baru banyak bermunculan baik dari segi moral, sikap, bahasa, ilmu pengetahuan, gaya hidup dan lain sebagainya. Misal dengan perkembangan IT yang semakin canggih memudahkan siswa mampu mengakses apapun, dengan berbagai pola pula mereka mampu menghindari (menyembunyikan file-file tertentu) dari otang tua maupun guru. Pada fase inilah guru harus mempu mengikuti perkembangan sekaligus dapat menempatkan diri sebagai filter pembeda hal baru itu. Maka dengan tututan ini totalitas dan profesionalisme adalah mutlak harus dimiliki seorang guru.

Ketika berbicara tentang profesionalisme guru setidaknya syarat sebagai guru profesional harus kita miliki seperti, kualifikasi akademik minimal Sarjana atau Diploma IV (S1/D-IV) yang relevan dan menguasai kompetensi sebagai agen pembelajaran.[1] Namun apakah cukup sebagai guru profesional (apalagi yang telah tersertifikasi) sehingga kita mampu untuk mengemban tanggung jawab mencerdaskan kehidupan bangsa? atau lebih ekstrim lagi apakah dengan label guru profesional telah mampu menjawab setiap tantangan jaman? Banyak jawaban yang bisa kita kedepankan namun kalau bisa disederhanakan adalah “Prestasi”. Menjadi guru berprestasi bukan sebuah fase setelah menjadi profesional namun merupakan harapan yang perlu diraih untuk kemajuan guru dan menjawab tantangan jaman.

Guru profesional dan berprestasi adalah gambaran ideal dalam dunia pendidikan modern. Namun untuk mencapai kondisi ini apa yang harus kita punya, bagaimana kita bisa mencapai pada tahap ini, dan untuk apa itu semua.

 

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan pemaparan latar belakang diatas maka masalah yang akan dibahas dalam penulisan makalah ini adalah :

  1. Guru sebagai pengabdian dan guru sebagai profesi
  2. Bagaimana menjadi guru berprestasi?
  3. Perlukah menjadi guru berprerstasi?

 

C. Tujuan Penulisan

            Pada makalah ini penulis mengambil judul; “Menjadi Guru adalah Sebuah Pengabdian, Menjadi Guru Berprestasi adalah Kebanggaan”, dengan obyek penulisan adalah guru secara umum, sedangkan tujuan penulisan adalah;

  1. Dapat mengintegrasikan pengabdian dan profesionalisme guru
  2. Memahami langkah-langkah menjadi guru berprestasi
  3. Manfaat menjadi guru berprestasi

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.                Profesi dan Pengabdian Guru

Tujuan pendidikan nasional adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Oleh karena itu agar pendidikan dapat terwujud dengan baik diperlukan tenaga pendidikan yang berlatar belakang mengerti akan profesi keguruan. Menjadi guru adalah menghayati profesi.

Sungguh jasa guru tidak bisa dibilang dengan materi, tidak bisa diungkap dengan indahnya untaian mutiara kata, karena memang jasanya tiada tara. Jasa yang hadir karena pengabdian yang tulus dengan kemurnian dan keikhlasan profesi. Guru bukan sekedar pekerjaan, tetapi profesi.  Ada baiknya kita bahas terlebih dahulu tentang profesi dan pengabdian

Pengabdian adalah proses, cara, perbuatan mengabdi atau mengabdikan Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, pengabdian berarti hal mengabdi atau mengabdikan. Seorang warga negara yang mengabdi kepada negaranya biasanya berpedoman hidup: “Berjuang bagi negara tanpa mengharapkan imbalan apa-apa.”[2] Kunci dari kalimat ini adalah berjuang tanpa mengharap imbalan apapun.

Pengabdian adalah perbuatan baik yang berupa pikiran dan pendapat sebagai perwujudan kesetiaan, atau suatu kesetiaan yang di lakukan dengan ikhlas.
Pengabdian itu ada hakekatnya yaitu rasa tanggung jawab. Apabila orang bekerja keras seharian penuh itu untuk mencukupi kebutuhannya. Lain halnya jika kita hanya membantu teman dalam kesulitan mungkin sampai berhari-hari itu bukan pengabdian, tetapi hanya sebuah bantuan saja.[3]

Profesi adalah bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian (keterampilan, kejuruan, dsb) tertentu, Profesi merupakan kata serapan dari sebuah kata dalam bahasa Inggris “Profess”, yang bermakna Janji untuk memenuhi kewajiban melakukan suatu tugas khusus secara tetap/permanen. Profesi sendiri memiliki arti sebuah pekerjaan yang membutuhkan pelatihan dan penguasaan terhadap suatu pengetahuan dan keahlian khusus. Suatu profesi biasanya memiliki asosiasi profesi, kode etik, serta proses setrifikasi dan lisensi yang khusus untuk bidang profesi tersebut. Profesi adalah pekerjaan, namun tidak semua pekerjaan adalah profesi, karena profesi memiliki karakteristik sendiri yang membedakannya dengan pekerjaan lainnya.[4]

Profesi merupakan “pekerjaan, dapat juga berwujud sebagai jabatan di dalam suatu hierarki birokrasi, yang menuntut keahlian tertentu serta memiliki etika khusus untuk jabatan tersebut serta pelayanan baku terhadap masyarakat.”[5]

Profesi merupakan tugas yang diberikan dan diterima dalam rangka hidup di tengah masyarakat majemuk. Profesi menuntut pendidikan dan keterampilan yang amat tinggi serta spesialisasi yang tajam. Dituntut tanggung jawab dan komitmen. Profesi mengabdi masyarakat yang luas. Kadangkala harus diawali semacam sumpah jabatan.
Di dalam definisi profesi tersebut ada dua hal penting bagi penyandangnya, yaitu Etika dan Pengabdian.[6]

            Berdasarkan beberapa pendapat diatas tentang pengabdian dan profesi dapat diambil beberapa kesimpulan bahwa pengabdian adalah berjuang tanpa mengharapkan imbalan apapun dengan penuh keikhlasan, kesetiaan dan dilaksanakan dengan penuh rasa tanggung jawab. Sedangkan profesi adalah merupakan tugas (pekerjaan/jabatan) yang memerlukan pendidikan (keahlian/ketrampilan) khusus dalam menjalankannya dan memiliki sertifikat (licensi), biasanya memiliki asosiasi dan dilaksanakan tetap/permanen.

Apabila dapat kita lihat dari dimensi seorang guru maka guru sebagai pengabdian akan selalu berjuang dengan penuh keikhlasan dan tanggung jawab profesi tanpa mengharap imbalan apapun dan tentu saja akan sulit terlaksana karena guru bukanlah malaikat. Dan apabila guru sebagai profesi murni maka akan melaksanakan tugas sesuai dengan reward yang akan mereka dapatkan tanpa ada keterkaitan moral bagi kemajuan peserta didik. Perbedaan dari keduanya adalah tanggung jawab dan profesionalisme, Tanggung jawab dari seorang pengabdi dan profesionalisme dari sebuah profesi. Guru ideal mungkin sulit diraih namun mendekati ideal akan lebih baik karena dengan demikian kemauan untuk maju akan selalu dikerjakan.

Menjadi guru adalah menghayati profesi. Apa yang membedakan sebuah profesi, dengan pekerjaan lain adalah bahwa untuk sampai pada profesi itu seseorang berproses lewat belajar. “Profesi merupakan pekerjaan, dapat juga berwujud sebagai jabatan dalam suatu hierarki birokrasi, yang menuntut keahlian tertentu serta memiliki etika khusus (etika profesi) untuk jabatan itu serta pelayanan baku terhadap masyarakat.”  Profesi tanpa etika profesi akan menciptakan nilai kebebasan dan individu tidak dihargai. Inilah yang membedakan antara profesi guru dengan profesi pendidik lainnya (misalkan bimbingan belajar).[7]

Alangkah lebih bijaksana jika profesi guru tidak dijadikan sebagai profesi untuk menumpuk materi. Dan sepertinya perlu dibedakan, dipetakan, dan dipilah-pilah antara profesi guru sebagai bentuk profesionalisme kerja dengan profesi  guru sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat.

Kontekstualisasi dalam pembedaan itu memang sangat disadari bukanlah satu pekerjaan yang gampang. Akan tetapi usaha-usaha itu diperlukan untuk menghindari keterjebakan psikis profesionalisme kerja pada capaian hasil-materi semata. Sehingga kita tidak terjebak pada mengajar di sekolah hanya sebagai rutinitas administratif kerja semata.

  1. B.                 Guru Berprestasi

Guru berprestasi erat kaitannya dengan profesionalisme, karena profesionalisme merupakan syarat untuk mencapai prestasi. Menurut para ahli, profesionalisme menekankan kepada penguasaan ilmu pengetahuan atau kemampuan manajemen beserta strategi penerapannya. Profesionalisme guru bukan sekadar pengetahuan teknologi dan manajemen tetapi lebih merupakan sikap, pengembangan profesionalisme lebih dari seorang teknisi bukan hanya memiliki keterampilan yang tinggi tetapi memiliki suatu tingkah laku yang dipersyaratkan.[8]

Sejak tahun 2005, isu mengenai profesionalisme guru gencar dibicarakan di Indonesia. Profesionalisme guru sering dikaitkan dengan tiga faktor yang cukup penting, yaitu kompetensi guru, sertifikasi guru, dan tunjangan profesi guru. Ketiga faktor tersebut merupakan latar yang disinyalir berkaitan erat dengan kualitas pendidikan. Guru profesional yang dibuktikan dengan kompetensi yang dimilikinya akan mendorong terwujudnya proses dan produk kinerja yang dapat menunjang peningkatan kualitas pendidikan. Guru kompeten dapat dibuktikan dengan perolehan sertifikasi guru berikut tunjangan profesi yang memadai menurut ukuran Indonesia. Sekarang ini, terdapat sejumlah guru yang telah tersertifikasi, akan tersertifikasi, telah memperoleh tunjangan profesi, dan akan memperoleh tunjangan profesi. Fakta bahwa guru telah tersertifikasi merupakan dasar asumsi yang kuat, bahwa guru telah memiliki kompetensi. Kompetensi guru tersebut mencakup empat jenis, yaitu (1) kompetensi pedagogi (2) kompetensi profesional, (3) kompetensi sosial, dan (4) kompetensi kepribadian.[9]

Persoalan yang muncul kemudian, bahwa guru yang diasumsikan telah memiliki kompetensi yang hanya berlandaskan pada asumsi bahwa mereka telah tersertifikasi, tampaknya dalam jangka panjang sulit untuk dapat dipertanggungjawabkan secara akademik. Bukti tersertifikasinya para guru adalah kondisi sekarang, yang secara umum merupakan kualitas sumber daya guru sesaat setelah sertifikasi. Oleh karena sertifikasi erat kaitannya dengan proses belajar, maka sertifikasi tidak bisa diasumsikan mencerminkan kompetensi yang unggul sepanjang hayat. Pasca sertifikasi seyogyanya merupakan tonggak awal bagi guru untuk selalu meningkatkan kompetensi dengan cara belajar sepanjang hayat. Untuk memfasilitasi peningkatan kompetensi guru, diperlukan manajemen pengembangan kompetensi guru. Hal ini perlu dipikirkan oleh berbagai pihak yang berkepentingan, karena peningkatan kompetensi guru merupakan indikator peningkatan profesionalisme guru itu sendiri.[10]

Dilain pihak untuk meningkatkan kompetensi dengan belajar sepanjang hayat tentunya memerlukan waktu yang tidak sedikit, hal ini berpengaruh pada kinerja profesi kita sebagai guru yang mempunyai jadwal yang jelas. Fakta dilapangan ketika seorang guru komitmen dengan kemampuannya untuk selalu meningkatkan profesionalismenya akan banyak waktu yang dibutuhkan dan tentu saja meninggalkan tugas mengajar dikelas. Hal ini berpengaruh bagi kemampuan peserta didik sebagai produk output sekolah.

Sebagai antisipasi kemungkinan tersebut tentu harus ada kerja sama antara pemangku kebijakan dengan sekolah sehingga akan dapat diambil keselarasan antar institusi maka dapat terlaksana semua tujuan dengan baik.

Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan Nasional melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar telah memberikan perhatian yang sungguh-sungguh untuk memberdayakan guru, terutama guru berprestasi. Hal ini sesuai dengan amanat Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Pasal 36 ayat (1) yang menyatakan bahwa ”Guru yang berprestasi, berdedikasi luar biasa, dan/atau bertugas di daerah khusus berhak memperoleh penghargaan. Kemudian berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2008 Pasal 30 ayat (1) ditegaskan bahwa “Guru memiliki hak untuk mendapatkan penghargaan sesuai dengan prestasi kerja, dedikasi luar biasa, dan/atau bertugas di daerah khusus”. Guru Berprestasi dapat menjadi guru model atau contoh bagi guru lainnya karena yang bersangkutan mempunyai prestasi yang luar biasa atau melebihi yang dicapai guru lain sehingga berdampak positif terhadap peningkatan mutu dan proses hasil pembelajaran menuju standar nasional pendidikan.[11]

Guru berprestasi adalah guru yang memiliki kemampuan melaksanakan tugas, keberhasilan dalam melaksanakan tugas, memiliki kepribadian yang sesuai dengan profesi guru dan memiliki wawasan kependidikan sehingga secara nyata mampu meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran atau bimbingan melebihi yang dicapai oleh guru lain sehingga dapat dijadikan penutan oleh siswa, rekan sejawat, maupun masyarakat sekitarnya.[12]

  1. C.                Manfaat Guru Berprestasi

Ada beberapa manfaat yang dapat kita peroleh bila kita selalu meningkatkan kemampuan kita sebagai guru berprestasi;

  1. Guru berprestasi menyenangkan Siswa

Guru dapat dikatakan berprestasi bila mampu menciptakan suasana pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Suasana yang terbangun tersebut pada gilirannya membuat murid dengan sendirinya terpanggil, senang, dan aktif untuk belajar. “Tugas guru yang pertama adalah menciptakan suasana belajar dan proses pembelajaran yang mampu membuat siswa senang belajar,”[13] Keberhasilan guru itu ditopang oleh kemampuan ilmu  pengetahuan, kompetensi, moralitas, akhlak, iman, takwa, dan kepribadian guru yang tangguh. “Pada akhirnya mendapatkan hasil belajar yang luar biasa,”

  1. Guru yang menulis adalah guru yang berpretasi.

Standart penilaian bahwa guru yang menulis adalah guru yang berprestasi mungkin agak sulit, pasalnya mengukur tugas guru tentu sangat susah. Kalau pegawai yang lain diperusahaan seperti pemasaran, bisa dinilai dengan tingkat penjualan, kalau pegawai Kecamatan bisa dinilai dengan seberapa besar warga merasa puas atas pelayanan yang diberikan oleh mereka, namun untuk guru apa ukurannya?

Tingkat kelulusan siswa, hadir di kelas tanpa absen, tentu saja kegiatan itu wajib dilakukan oleh guru, dan belum bisa dikatakan prestasi. Begitu pula dengan mendapatkan sertifikat guru, belum bisa dijadikan ukuran karena penilaian portopolio kebanyakan hanya kumpulan sejumlah sertifikat, lebih-lebih ada wacana untuk mendapatkan sertifikasi guru harus menjalani pendidikan profesi guru. Tidak ada ukuran yang spesifik memang terkait dengan pretasi guru.

Namun, kita bisa mengatakan bahwa guru yang menulis adalah guru yang berpretasi, karena guru yang menulis adalah Guru yang bisa menjabarkan gagasan dan idenya, bukan hanya di dalam kelas namun juga pada masyarakat yang lebih luas. Sehingga masyarakat pun bisa tercerahkan.[14]

  1. Guru berprestasi selalu Termotivasi, Kreatif dan Inovatif

Tujuan utama pemilihan guru berprestasi adalah untuk memacu motivasi dan meningkatkan profesionalisme guru dalam pelaksanaan tugas. Manfaat diadakan guru berprestasi adalah, termotivasinya untuk meningkatkan kinerja, disiplin, dedikasi,dan loyalitas untuk kepentingan masa depan bangsa dan negara. Meningkatkan harkat, martabat, dan profesionalisme guru. Terpupuknya rasa persatuan dan kesatuan bangsa melalui jalur pendidikan. menumbuhkan kreativitas dan inovasi guru dalam pembelajaran dan modal pembelajaran.[15]

  1. Guru berprestasi selalu mengejar nilai tambah

“Orang harus memiliki nilai tambah”[16], itulah kata-kata bijak yang dapat menggugah semangat kita untuk selalu mempunyai kelebihan dari orang lain, kelebihan disini dalam arti yang positif yaitu mempunyai nilai lebih dibanding lainnya. Profesi guru banyak sekali bahkan mengajar dengan mata pelajaran yang sama namun sedikit yang mempunyai kemampuan lintas profesi dengan baik. Kemampuan lain itulah bisa diintegrasikan dengan sistem mengajar kita atau setidaknya membuat menarik siswa ketika KBM.

  1. Guru berprestasi akan mendapatkan fasilitas yang lebih

Secara tidak langsung guru berprestasi akan mendapatkan fasilitas yang lebih dibanding lainnya baik secara finansial[17], ilmu pengetahuan, disiplin,  aktif, kreativitas, inovatif dan kepuasan batin.

 

BAB III

P E N U T U P

  1. A.                Kesimpulan

Dari Pembahasan Masalah diatas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut;

  1. Guru sebagai profesi dan pengabdian bagai dua mata pisau yang saling melengkapi untuk mencapai idealitas sebagai seorang pengajar.
  2. Guru berprestasi adalah guru yang memiliki kemampuan melaksanakan tugas, keberhasilan dalam melaksanakan tugas, memiliki kepribadian yang sesuai dengan profesi guru dan memiliki wawasan kependidikan sehingga secara nyata mampu meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran atau bimbingan melebihi yang dicapai oleh guru lain sehingga dapat dijadikan penutan oleh siswa, rekan sejawat, maupun masyarakat sekitarnya.
  3. Manfaat guru berprestasi mampu menyenangkan siswa, aktif, kreatif, inovatif, disiplin, mempunyai nilai tambah.
  4. B.                 Saran-saran
    1. Setiap guru harus mampu meningkatkan motivasi diri untuk lebih profesional
    2. Kepala Sekolah supaya memotivasi guru-guru untuk meningkatkan profesionalismenya.
    3. Para pemegang kebijakan setempat harus bersinergi dengan institusi sekolah untuk meningkatkan kemampuan guru
    4. Reward and punhismen, (sertiap tindakan pasti ada imbal baliknya) selalu menjadi dasar setiap kebijakan.
    5. The right man in the right place ( orang baik ditempat yang baik ), menempatkan seseorang sesuai kompetensinya.

Penulis:

Achmad Ichsan Nugroho

 

 


[1] Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan

[2] www.artikata.com/arti-357077-pengabdian.htm

[3] http://www.scribd.com/doc/21572818/30/Pengabdian-dan-Pengorbanan

[4] ekonurzhafar.wordpress.com/…/pengertian-profesi-da..html

[5] Doni Koesoema (Pendidikan KarakterPT Gramedia Widyasarana Indonesia, , Jakarta, Tahun 2007, …hal:166),

[6] Jacobus Tarigan (Religiusitas, Agama dan Gereja Katolik, PT Gramedia Widyasarana Indonesia, , Jakarta, Tahun 2007 …hal:117)

[7] http://makalahfrofesikependidikan.blogspot.com/2010/07/makalah-profesi-guru.html

[8] www.edyutomo.com › Pendidikan

[9] makalahmajannaii.blogspot.com › pendidikan

[10] makalahmajannaii.blogspot.com › pendidikan

[11] aannurefendi.wordpress.com/…/profesionalisme-guru-..

[12] http://prestasi.guru-indonesia.net Ged. D Lt 13 Kemdikbud

[13] Prof. Dr. Fasli Jalal, Wakil Menteri Pendidikan Nasional di Jakarta,  www.kemendikbud.com 18.98.166.62/content/berita/…/guru-berprest.html

[14] ginanjarhambali.blogspot.com/…/guru-menulis-guru-…

[15] http://prestasi.guru-indonesia.net Ged. D Lt 13 Kemdikbud

[16] Tung Desem Waringin, 24 kiat sukses, Gramedia, Jakarta, 2007

[17] http://prestasi.guru-indonesia.net Ged. D Lt 13 Kemdikbud

 

Download Artikel ini versi PDF

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

hndghhhdhdhdhhhd